Apabila berteman dan dalam pertemanan atau diajak berteman dengan seseorang yang menyia-nyiakan umurnya, tidak bisa memberinya faedah (ilmu), tidak pula bisa mengambil ilmu darinya, tidak bisa menolongnya untuk urusan yang sedang ditempuhnya (yakni ilmu),dan tidak dapat memberikan manfaat sekecilpun,pentingnya selektif dalam pertemanan adalah kita dapat mendapat manfaat dari pertemanan kita.sebagaimana dalam hadits nabi ﷺ :
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Apabila kita mendapati berteman dengan seseorang yang jelek akhlaqnya dan kita tidak dapat mengambil manfaat apa-apa didalam dirinya maka hendaklah dia dengan lemah lembut berhenti menjalin pertemanan tersebut dari awal, sebelum hubungan pertemanan semakin erat,mengapa demikian??Sebab, apabila sesuatu telah erat, akan sulit dihilangkan. Di antara ucapan yang beredar di kalangan fuqaha, “Mencegah lebih mudah daripada menghilangkan.” Atau biasa kita bilang “mencegah lebh baik daripada mengobati”.
Seperti apakah teman yang baik itu diantaranya apabila dia membutuhkan teman, hendaklah dia memilih orang yang:
- saleh,
- baik agamanya,
- bertakwa,
- wara’,
- cerdas,
- banyak kebaikannya,
- sedikit keburukannya,
- baik dalam bergaul, dan
- tidak banyak berdebat.
Apabila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Apabila
dia sedang ingat, teman ini bisa menolongnya. Apabila dia sedang membutuhkan, temannya ini
bisa membantu. Apabila dia sedang bosan,
temannya ini bisa menyabarkan dirinya dan menghibur dirinya.
(Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim,
karya Ibnu Jamaah al-Kinani rahimahullah, cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah, hlm.
83—84)
Sumber:
https://asysyariah.com/memilih-teman-dalam-menuntut-ilmu/

Komentar
Posting Komentar